Senin, 21 Oktober 2024

MENGENAL ECO ENZYME DAN MANFAATNYA

SAMPAH ORGANIK DENGAN BANYAK MANFAAT ITU ADALAH...


Seiring dengan perkembangan jaman yang memicu kenaikan jumlah populasi manusia di seluruh dunia, maka jumlah sampah dan limbah di dunia baik dari sampah dan limbah domestik, medis, maupun industri juga semakin meningkat. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, pengertian dari sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari dari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sampah dihasilkan manusia dari setiap aktivitas sehari-hari, mulai dari aktivitas sederhana seperti mengkonsumsi makanan hingga aktivitas rumit seperti terbentuknya limbah industri. Yang paling umum kita ketahui, pada sampah domestik atau sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, berdasarkan sifatnya terbagi menjadi 2 yaitu: 1. SAMPAH ANORGANIK (undegradable)

Sampah anorganik atau undegradable: sampah yang sulit membusuk dan tidak dapat terurai. Seperti plastik, logam, dan kaca.

Meski begitu, sampah anorganik tetap bisa didaur ulang secara manual menjadi benda baru yang bermanfaat, contohnya: penggunaan botol plastik atau kaleng bekas sebagai wadah untuk menyimpan barang-barang kecil di dalam kamar.

2. SAMPAH ORGANIK (degradable)

Sampah organik atau degradable: sampah yang mudah membusuk, dapat terurai, dan dapat diolah menjadi kompos dan eco enzyme, contohnya: daun kering, sayuran, dan sisa makanan, kulit buah.


Sebenarnya, APA SIH ECO ENZYME itu? Menurut Imron (2020) eco enzyme merupakan hasil dari fermentasi limbah sampah organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula aren, gula merah, atau gula tebu), dan air. Warnanya coklat gelap dan memiliki bau khas fermentasi asam manis yang kuat.Ekoenzimmemilikimanfaat yang berlipat ganda.

Dengan memanfaatkan sampah organik sebagai bahan bakunya, kemudian dicampur dengan gula aren dan air, proses fermentasinya menghasilkan gas 03 (ozon) dan hasil akhirnya adalah cairan pembersih serta pupuk yang ramah lingkungan. Proses pembuatan eco enzyme sangat sederhana yaitu hanya dengan menggunakan 3 bahan antara lain sisa buah atau sayur, air, dan gula (gula merah, gula aren, molase).

Pembuatannya membutuhkan kontainer berupa wadah yang terbuat darip lastik, penggunaanbahan yang terbuat dari kaca sangat dihindari karena dapat menyebabkan wadah pecah akibat aktivitas mikroba fermentasi. Perbandingan antara ketiga bahan adalah 1:3:6 yaitu membutuhkan 1 kg gula merah, 3 kg sisa buah atau sayur, dan 6 kg air.


Manfaat ECO ENZYME

Dalam penelitian Wikaningrum, et al, 2022, penggunaan konsentrasi eco-enzyme sebesar 6% dapat menurunkan konsentrasi amonia dalam air dari semula sebesar 34.5 mg/L menjadi 30.1 mg/L atau penurunan sebesar 12.8% hanya dalam waktu 5 jam dibandingkan dengan penelitian sebelumnya dengan waktu inkubasi 5 hari. Hal ini karena dalam penelitian ini digunakan parameter tunggal amonia saja dan tanpa adanya tambahan bahan kimia lain ke dalam aquades, sehingga reaksi yang terjadi hanya semata-mata degradasi amonia.

Sedangkan dalam penelitian sebelumnya tersebut, selain amonia, juga terdapat polutan lain seperti Phosphat, BOD, TSS, COD dan bahkan MPN (Kumar et al., 2019), sehingga proses degradasi amonia diperlukan waktu lebih lama.

Penelitian penggunaan eco-enzyme dari bahan nanas juga dilakukan (Syahirah & Nazaitulshila, 2019) untuk pengolahan lumpur akuakultur yang dilaporkan berhasil menurunkan amonia total sebesar 50% dengan waktu inkubasi selama 12 jam.

Manfaat yang dapat diperoleh dari penggunaan Eco Enzyme untuk kegiatan sehari-hari adalah:

1. PUPUK ORGANIK

Cairan dan ampas dari pengolahan sampah organik bisa berfungsi sebagai pupuk organik. Eco Enzyme akan membantu memberikan nutrisi esensial yang penting bagi pertumbuhan tanaman.

Untuk menggunakannya sebagai pupuk alami, campurkan 50 ml eco enzyme dengan 1,5 liter air. Kemudian, siramkan campuran ini pada tanaman.

2. PENGENDALI HAMA

Cairan fermentasi ini juga dapat digunakan sebagai pengendali hama atau pestisida alami. Ini umumnya dilakukan dalam industri pertanian sayur atau buah organikSelain pada industri pertanian, eco enzyme juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama di rumah, seperti kecoak, semut, dan lalat.

Campurkan 15 ml cairan enzim dan 500 ml air ke dalam botol semprot. Kemudian, tutup dan kocok botol tersebut hingga keduanya tercampur secara merata.

Gunakan campuran ini di area rumah yang banyak hama, misalnya dapur dan kamar mandi.


3. SABUN ANTISEPTIK


Sebuah studi dalam International Journal of Environmental Research and Public Health (2020) menguji efek antibakteri cairan eco enzyme yang terbuat dari kulit buah nanas, jeruk, dan pepaya.

Diketahui bahwa cairan eco enzyme 50–100% sama efektifnya dengan cairan natrium hipoklorit (NaOCl) 2,5% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Enterococcus faecalis.


4. CAIRAN PEMBERSIH RUMAH TANGGA


Eco enzyme juga dapat Anda gunakan sebagai pembersih alami untuk berbagai permukaan, di antaranya lantai, meja, lemari, dan toilet rumah.


Pasalnya, hasil fermentasi sampah organik ini menghasilkan senyawa alkohol dan asam asetat yang berfungsi sebagai disinfektan rumahan untuk membunuh kuman berbahaya.

Cukup campurkan cairan fermentasi dan air bersih dengan perbandingan 1:1 (misalnya 250 ml cairan fermentasi dan 250 ml air). Setelah itu, kocok campuran tersebut hingga rata.


5. ZERO WASTE


Dengan cara mengolah sampah organik menjadi Eco Enzyme, penerapan zero waste dapat tercapai karena sampah kulit buah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.



CARA MEMBUAT ECO ENZYME DI RUMAH




Membuat Eco Enzyme di rumah itu sangat mudah dan sederhana, hanya perlu mempersiapkan 3 bahan yaitu:

1. Kulit buah yang masih segar

2. Air

3. Gula merah / gula aren / molase


Campurkan ketiga bahan tersebut dengan perbandingan 1:3:10. Contohnya 100 gram (g) gula, 300 g sampah buah atau sayuran, dan 1.000 ml air bersih.

Selanjutnya, Anda bisa mengikuti langkah-langkah pembuatannya berikut ini.

  1. Siapkan wadah plastik kedap udara, misalnya bekas botol atau galon air mineral.
  2. Masukkan air dan gula ke dalam wadah plastik, kemudian aduk hingga tercampur rata.
  3. Potong kulit buah dan sisa sayuran menjadi potongan kecil, lalu masukkan ke dalam wadah. Tambahkan kulit jeruk atau daun pandan agar cairan beraroma segar.
  4. Pastikan Anda menyisakan sedikit ruang udara untuk gas yang dihasilkan dari proses fermentasi, kemudian tutup rapat wadah tersebut.
  5. Simpan wadah tersebut di tempat yang hangat dan gelap di rumah, dengan suhu ideal untuk fermentasi sekitar 25–30 derajat Celsius (℃).
  6. Biarkan cairan ini selama kurang lebih tiga bulan sambil sesekali kendurkan tutup wadah untuk mengurangi tekanan udara di dalamnya. 

Eco enzyme berkualitas baik berwarna cokelat tua serta punya bau asam dan manis yang kuat.

Setelah proses fermentasi selesai, Anda dapat memakai cairan yang telah disaring dan ampas yang dihasilkan untuk berbagai keperluan. Selamat mencoba!



Referensi:

https://tirto.id/pengertian-eco-enzyme-manfaat-dan-cara-membuatnya-gRYr

https://hellosehat.com/sehat/informasi-kesehatan/eco-enzyme/

Budianto, Cucuk Wawan. (2022). Mengubah Sampah Organik Menjadi Eco Enzym Multifungsi: Inovasi di Kawasan Urban. DEDIKASI: Community Service Reports (Vol.4 Issue 1 | Januari 2022).


Imron, M. (2020). Manajemen sampah. https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/ecoenzyme/


Kumar, Rajshree, Yadav, Malhotra, Gupta, & Pusp. (2019). Validation of eco-enzyme for improved water quality effect during large public gathering at river bank. International Journal of Human Capital in Urban Management, 4(3), 181–188. https://doi.org/10.22034/IJHCUM.2019.03.03


Syahirah, M. F., & Nazaitulshila, R. (2019). The Utilization of Pineapples Waste Enzyme for the Improvement of Hydrolysis Solubility in Aquaculture Sludge. Journal of Energy and Safety Technology (JEST), 1(2–2), 35–41. https://doi.org/10.11113/jest.v1n2-2.29


Wikaningrum, Temi. (2022). Eco-Enzyme sebagai Rekayasa Tekonologi Berkelanjutan dalam Pengolahan Air Limbah. p-ISSN 0853-7720; e-ISSN 2541-4275, Volume 7, Nomor 1, Halaman 53 – 64, Januari 2022. http://dx.doi.org/10.25105/pdk.v7i1.10738